Sekedip Helaan Nafas

Rasanya baru kemarin aku mendengar tangisan kehidupanmu. Rasaku baru bulan lalu aku menimangmu dalam buaian. Tangan mungil yang belum puas kuciumi itu terasa ajaib telah sekejab waktu menjadi tangan terampil menggambar, menulis, menggulung benang layangan, mengendali sepeda, memegang raket, membuat kotor rumah, hingga terampil menyalakan korek api. Kaki kecil yang dulu ku teliti mendetail yang ternyata satu jari kelingking berkuku miring itu kini telah hebat menendang bola dan menendang segala sesuatu dihadapanmu ketika kamu marah. Mulut kecilmu yang dari dulu susah disuapi makanan sekarang berubah menjadi melodi-melodi teriakan kala keinginanmu tidak cepat terpenuhi. Jengkel memang. Aku seorang ibu, kusadari sekarang anakku butuh kearifan dan kebijaksanaan bukan emosiku yang meledak-ledak seperti muda dahulu.
 
Anakku yang sekarang hampir tujuh tahun telah mampu mempertimbangkan peristiwa hidup. Segala tingkah lakuku banyak dia kritik ketika tak sejalan dengan apa yang aku katakan kepadanya. Segala sesuatu kehendak selalu ku paksakan, memang tak semuanya benar, tapi memang harus dengan cara itu memulai kebaikan. Suatu hari dia terlalu asyik bermain layang-layang di lapangan, terik matahari Surabaya yang begitu menyengat membuatku ingin mengurung dia di dalam rumah. Tapi apa daya, tak dihiraukan juga omelanku. Sampai suatu saat ku amati dia nampak kurus dekil karena terlalu banyak bermain di terik matahari. Tanganku geram, kubakar benang layangnya dan kubuangi semua layangan yang ada.

Memaksanya mandi, makan, belajar sudah jadi hadapanku tiap hari. Selalu banyak negosiasi saat aku memaksanya melakukan hal-hal yang baik. Dia mulai mengenal arti uang untuk keseharian, apapun dia negosiasikan dengan imbalan uang. Saat itu aku menyadari anak ku sudah mulai mengenal ilmu ekonomi. Tapi masih sulit sekali dikendalikan. Apa-apa selalu dia nilai dengan uang, dan saat negosiasi itu berlangsung aku hanya tertawa terbahak-bahak. Saat mandi pun sama, aku tetap harus adu mulut dengan kecerdasannya membolak-balik kata. Pernah dia kumandikan dengan menggosok badannya tapi dia tidak mau. Balik dia protes "emang mama mau digosok-gosok mandi'. "Yo wes nanti mama gosoken, sekarang kamu dulu yang digosok". Saat itu langsung terpikir olehku, hidupku tak lama lagi akan tua secepat ia berubah menjadi dewasa. Disaat ini mungkin aku masih segar bugar tapi suatu saat yang cepat nanti pasti aku akan tua. Dan disitu harapku, anakku adalah generasiku. Semoga jadi anak yang berbakti.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SENINYA BERKULIAH DI UNIVERSITAS TERBUKA